DISTRIBUTOR MINYAK WANGI IMPORT

DISTRIBUTOR MINYAK   WANGI IMPORT
"AR-REHAB"

hubungi pemesanan

Pemesanan Hubungi

Teguh Setyawan:085229075725

Alamat Kami DI : Jln Menco Raya No 45 Pabelan UMS

Dan Juga : Jln Tanuragan No 2B , Tanuragan Gatak Pabelan

alamat rumah:Bulu RT 01/6,Bulu,Bulu,Sukoharjo,Jawa Tengah 57563

Relase Harga Terbaru Dari Kami

Detail HARGA AGEN AL REHAB

Tanya : Berapa Harga Yang Di Tawarkan DI Agen AL Rehab ?
Jawab : Berikut list detail Harga Al Rehab.

NAMA PRODUK SATUAN Harga Grosir Volume Box Min Order
Al Rehab 3 ml Botol Rp 74.000 36 lusin 10 lusin
Al Rehab 6 ml Lusin Rp 115.000 18 lusin 5 lusin
Al Rehab Spray 35 ml Lusin Rp 217000 1 lusin 1 lusin
Al Rehab Spray 50 ml Lusin Rp 217000 12 lusin 1 lusin
Room Freshener Lusin Rp 75000 12 lusin 1 botol
Perfumed Cream Al Rehab Lusin rp 170000 1 lusin 1 botol

Jumat, 23 Juli 2010

Keluarnya Dajjal Sebagai Tanda Hari Kiamat

Kategori : Kajian Utama
Keluarnya Dajjal Sebagai Tanda Hari Kiamat


Setelah Imam Mahdi, satu penanda besar hari kiamat yang akan muncul adalah Dajjal. Dia berasal dari manusia dan merupakan sosok nyata. Kemunculannya akan didahului dengan sejumlah peristiwa besar.

Di antara kewajiban seorang muslim adalah beriman kepada hari akhir dan apa yang akan terjadi sebelum dan setelahnya. Hari kiamat tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ. قَالَ: مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ
“Kabarkanlah kepadaku kapan terjadi hari kiamat?” Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari bertanya.” (HR. Muslim no. 1)
Meskipun tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menerangkan tanda-tanda yang akan muncul sebelum terjadinya. Tanda-tanda hari kiamat ada dua, shugra dan kubra.
Tanda kiamat shugra banyak jumlahnya, Di antaranya yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ: أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ
“(Jibril) berkata: Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya. Rasulullah menjawab: Budak perempuan melahirkan tuannya, dan kamu lihat orang yang telanjang kaki dan telanjang badan penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.” (HR. Muslim no. 1)
Adapun tanda kiamat kubra, di antaranya disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu:
اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَيَأَجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
Rasulullah melihat kami ketika kami tengah berbincang-bincang. Beliau berkata: “Apa yang kalian perbincangkan?” Kami menjawab: “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan: “Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa ‘alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (menggiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)
Di antara tanda kiamat kubra yang termaktub dalam hadits di atas adalah keluarnya Dajjal. Pembahasan masalah keluarnya Dajjal merupakan pembahasan penting disebabkan beberapa faktor yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu:
1. Banyaknya orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah meragukan akan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan terbunuhnya Dajjal.
2. Kebanyakan manusia tidak terbiasa membicarakan masalah keluarnya Dajjal dan turunnya ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam.
(Lihat Qishshah Al-Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa, karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Dajjal
Secara bahasa:
Disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu dalam kitab beliau At-Tadzkirah bahwa lafadz Dajjal dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya: Kadzdzab (tukang dusta), Mumawwih (yang menipu manusia). Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Dikatakan demikian karena dia adalah manusia yang paling besar penipuannya.”
Dalam istilah syar’i:
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Seorang laki-laki pendusta (penipu) yang keluar di akhir zaman mengaku sebagai Rabb.” (Syarah Lum’atul I’tiqad)

Peringatan akan Keluarnya Dajjal
Para nabi telah memperingatkan akan keluarnya Dajjal. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata:
قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya. Tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya: Ketahuilah dia itu buta sebelah matanya, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, 2930/169)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنِ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؟ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ
“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh para nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah matanya, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka. Aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ الْكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَمَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر
“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Buta satu matanya, pendusta. Ketahuilah dia buta. Adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal: ك ف ر -yakni kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2933)
Dalam riwayat lain:
يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ
“Bisa dibaca oleh semua mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak.” (HR. Muslim 2934/105)

Kejadian-Kejadian Sebelum Keluarnya Dajjal
Banyak kejadian telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang keluarnya Dajjal. Di antara kejadian-kejadian tersebut:
1. Banyaknya yang tewas ketika kaum muslimin melawan Romawi
Diriwayatkan dari Yusai bin Jabir: Bertiup angin di Kufah, datanglah seorang pria yang ucapannya hanyalah: “Ya Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah datang.” Maka beliau duduk dan bersandar kemudian berkata: “Sesungguhnya kiamat tak akan terjadi hingga tidak dibagikan lagi warisan dan tidak bergembira dengan ghanimah.” Beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Syam seraya berujar: “Akan ada musuh yang berkumpul untuk menyerang kaum muslimin maka kaum muslimin pun berkumpul untuk melawan mereka.” Aku katakan: “Romawi yang anda maksud?” Beliau menjawab: “Ya. Ketika itu akan terjadi peperangan yang dahsyat. Majulah kaum muslimin siap untuk mati (membela agama), tak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Bertempurlah kedua pasukan tersebut hingga terhalangi waktu malam. Maka kembalilah dua kelompok tersebut tanpa ada pemenang dan pasukan yang siap mati telah tiada. Kemudian maju sekelompok kaum muslimin yang siap untuk mati, tidak pulang kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga sore kemudian kembalilah dua kelompok tersebut tanpa ada pemenang dan pasukan yang siap mati pun habis. Di hari keempat majulah sisa pasukan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemenangan kepada mereka. Mereka membunuh musuh dalam jumlah yang tak pernah terlihat sebelumnya. Hingga ada seekor burung yang terbang ke arah mereka mati sebelum bisa melintasi semuanya. Ketika itu ada orang-orang yang mencari keluarga bapaknya hanya mendapatkan seorang saja padahal sebelumnya mereka berjumlah seratus orang. (Kalau begini keadaannya) dengan ghanimah seperti apa dia akan gembira? Atau warisan seperti apa dibagikan? Ketika dalam keadaan demikian, mereka mendengar sesuatu yang lebih besar dari itu. Datang seseorang yang berteriak (bahwa) Dajjal telah mendatangi keluarga mereka. Maka mereka pun membuang ghanimah dari tangan-tangan mereka, dan mengirim sepuluh pasukan berkuda sebagai mata-mata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Sungguh aku tahu nama-nama mereka dan nama-nama ayah mereka serta warna kuda-kuda mereka. Mereka adalah pasukan berkuda yang terbaik di muka bumi ketika itu atau di antara pasukan berkuda yang terbaik di muka bumi ketika itu’.” (HR. Muslim no. 2899)
2. Banyaknya kemenangan diraih kaum muslimin
Dari Nafi’ bin ‘Utbah radhiyallahu 'anhu: Kami bersama Rasulullah dalam satu peperangan. Datang kepada Nabi satu kaum dari Maghrib memakai pakaian dari wol (bulu domba). Mereka bertemu Rasulullah di sebuah bukit dalam keadaan berdiri sedangkan Rasulullah duduk. Batinku berkata: ‘Datangilah mereka dan berdirilah antara mereka dengan Rasulullah agar jangan sampai mereka menculik Rasulullah’. Kemudian aku berkata (dalam hati, -pen.): ‘Mungkin beliau ingin berbicara khusus bersama mereka.’ Aku pun mendatangi mereka dan duduk di antara Rasulullah dan mereka. Aku hafal dari beliau empat kalimat, aku hitung dengan jariku. Beliau berkata: ‘Kalian akan berperang melawan jazirah Arab dan Allah berikan kemenangan kepada kalian. Kemudian memerangi Persia dan kalian pun menang. Kalian memerangi Romawi kalian pun diberikan kemenangan oleh Allah. Dan kemudian kalian berperang melawan Dajjal, Allah juga memberikan kemenangan untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2900)
3. Kaum Muslimin menguasai Konstantinopel (Istanbul, red.)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga orang Romawi datang di A’maq atau Dabiq (dua tempat di Syam). Keluarlah pasukan dari Madinah untuk menghadapi mereka. Mereka adalah di antara penduduk bumi yang terbaik ketika itu. Ketika mereka telah berhadapan, orang Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang telah ditawan dari kaum kami.’ Kaum muslimin berkata: ‘Tidak, kami tak akan membiarkan kalian memerangi saudara kami.’ Akhirnya mereka pun bertempur. Larilah sepertiga pasukan yang Allah tak akan memberi taubat kepada mereka, sepertiga pasukan muslimin terbunuh dan mereka adalah syuhada yang paling afdhal di sisi Allah, sepertiga pasukan lagi yang tersisa mendapat kemenangan dan mereka tak akan terkena fitnah (ujian) selamanya. Mereka menguasai Konsthantiniyah (Konstantinopel, dahulu merupakan ibukota Romawi Timur, red.). Ketika mereka tengah membagi rampasan perang dan telah menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, berteriaklah setan: ‘Masihid (Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian.’ Mereka pun keluar, padahal itu adalah berita batil. Ketika mereka sampai di Syam, keluarlah Dajjal….” (HR. Muslim no. 2897)
4. Dajjal keluar ketika telah sedikitnya orang Arab
Dari Ummu Syarik radhiyallahu 'anha, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
لَيَفِرَّنَّ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ فِي الْجِبَالِ. قَالَتْ أُمُّ شَرِيْكٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَأَيْنَ الْعَرَبُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: هُمْ قَلِيْلٌ
“Sungguh manusia akan melarikan diri dari Dajjal ke gunung-gunung.” Ummu Syarik berkata: “Ya Rasulullah, di mana orang-orang Arab ketika itu?” Beliau menjawab: “Mereka sedikit.” (HR. Muslim no. 2945)
5. Sebelum keluarnya Dajjal, manusia tertimpa tiga paceklik yang dahsyat sehingga mereka mengalami kelaparan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan langit di tahun pertama untuk menahan sepertiga hujan, memerintahkan bumi untuk menahan sepertiga tumbuhannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan langit di tahun kedua untuk menahan dua pertiga hujannya dan memerintahkan tanah untuk menahan dua pertiga tanamannya. Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan langit di tahun ketiga menahan semua hujannya, tak ada yang turun satu tetespun dan memerintahkan tanah untuk menahan semua tumbuh-tumbuhan. (Sebagaimana dalam hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu dan Asma` bintu Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu 'anha. Lihat kitab Qishshatu Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa wa Qatlihi Iyyahu karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Sebab Keluarnya Dajjal
Sebabnya adalah karena satu amarah. Ummul Mukminin Hafshah bintu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata kepada Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma: “Tidakkah kau tahu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّمَا يَخْرُجُ مِنْ غَضْبَةٍ يَغْضَبُهَا
“Dia keluar hanyalah karena satu amarah yang ia rasakan.” (HR. Muslim no. 2932)

Tempat keluarnya Dajjal
Diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu 'anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan perkara Dajjal pada satu hari. Beliau merendahkan dan kadang mengeraskan suaranya hingga kami menyangka dia ada di pojok kebun korma. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ وَاللهُ خَلِيْفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ، فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِيْنًا وَعَاثَ شِمَالاً، يَا عِبَادَ اللهِ فَاثْبُتُوا
“Selain Dajjal lebih aku takutkan (menimpa) kalian. Karena jika Dajjal keluar dan aku masih ada di antara kalian niscaya aku akan menjadi pelindung kalian. Jika dia keluar ketika aku telah tiada maka setiap muslim akan menjadi pembela dirinya sendiri. Allah yang akan menjaminku membela setiap muslim. Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting, matanya tidak ada cahayanya, aku mengira dia mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kalian mendapatinya bacalah awal surat Al-Kahfi. Dia akan keluar dari jalan antara Syam dan Irak, berjalan ke kiri dan ke kanan. Wahai hamba-hamba Allah, istiqamahlah.” (HR. Muslim no. 2937)

Dajjal adalah Cobaan yang Terbesar
Dajjal merupakan cobaan paling besar yang menimpa manusia di dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada makhluk di muka bumi ini sejak Allah menciptakan Adam sampai hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim no. 2946)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنْ الدَّجَّالِ
“Tidak ada antara penciptaan Adam dan hari kiamat makhluk yang lebih besar dari Dajjal (dalam satu riwayat: fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal).” (HR. Muslim no. 2946)

Negeri yang Tidak Dimasuki Dajjal
Tidak ada satu negeri pun di bumi ini kecuali akan didatangi dan dikuasai Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّيْنَ تَحْرُسُهَا فَيَنْزِلُ بِالسِّبْخَةِ فَتَرْجُفُ الْمَدِيْنَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ يَخْرُجُ إِلَيْهِ مِنْهَا كُلُّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ
“Tidak ada satu negeri pun kecuali akan didatangi (dikuasai) Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di negeri tersebut kecuali ada malaikat yang menjaganya. Kemudian Dajjal datang ke suatu daerah -di luar Madinah- yang tanahnya bergaram. Bergoyanglah Madinah tiga kali, Allah keluarkan dengan sebabnya semua orang kafir dan munafiq dari Madinah.” (HR. Muslim no. 2943)
Di antara negeri yang tidak didatangi (tidak dikuasai) Dajjal adalah Baitul Maqdis dan bukit Tursina. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dia akan tinggal selama 40 hari mendatangi semua tempat kecuali empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Bukit Tursina (Palestina), dan Masjidil Aqsha (Palestina).” (HR. Ahmad dan lainnya. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata sanadnya shahih. Lihat Qishshatu Al-Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa)

Lama Tinggalnya Dajjal di Bumi
Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan:
قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا، يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ
“…Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, berapa lama Dajjal tinggal di bumi?’ Rasulullah berkata: ‘40 hari. Satu harinya seperti satu tahun, kemudian seperti sebulan, kemudian seperti sepekan, kemudian hari-hari lainnya seperti hari kalian sekarang…’.” (HR. Muslim no. 2937)

Yang membunuh Dajjal
Setelah Dajjal tinggal di bumi 40 hari, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي أُمَّتِي فَيَمْكُثُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فَيَبْعَثُ اللهُ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُوْدٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ
“Dajjal keluar di antara umatku selama 40 hari, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam yang mirip dengan ‘Urwah bin Mas’ud. ‘Isa ‘alaihissalam mencarinya dan membunuhnya….” (HR. Muslim no. 2940)
Dalam riwayat lain:
فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ
“Dajjal dikejar oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam hingga mendapatkannya di Bab Ludd (satu negeri dekat Baitul Maqdis –Palestina, red.). Beliau pun membunuhnya.” (HR. Muslim no. 2937)
Dalam hadits lain:
فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللهِ ذَابَ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لَانْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللهُ بِيَدِهِ فَيُرِيْهِمْ دَمَهُ فِي حَرْبَتِهِ
“Ketika musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala (yakni Dajjal, -pen.) melihat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, melelehlah (tubuhnya) sebagaimana garam meleleh di air. Seandainya dibiarkan niscaya akan meleleh hingga binasa, akan tetapi Allah membunuhnya melalui tangan ‘Isa ‘alaihissalam, memperlihatkan darahnya kepada mereka di tombak Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (HR. Muslim 2897)
Inilah sekelumit permasalahan Dajjal yang perlu kita ketahui dan imani. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita dari fitnah Dajjal dan menambah keimanan kita.
Wa akhiru da’wana anilhamdulillahi Rabbbil ‘alamin

Lanjut lagi......

MELURUSKAN PRAKTIK BAI'AT




Senin, 22 Februari 2010 - 19:13:30, Penulis : Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin
Kategori : Manhaji
Bercermin dari Bai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[Print View] [kirim ke Teman]

Telah menjadi tabiat, dalam dakwah ditaburi beragam aral merintang. Jalan yang ditempuh dipenuhi onak duri. Curam, tajam, mendaki, dan banyak ranah terjal yang mesti dilalui. Tantangan demi tantangan akan senantiasa menghadang. Sulit tiada terperi. Duka nan lara pun akan datang silih berganti. Susul-menyusul bagai gelombang ombak yang tiada pernah berhenti. Potret tabiat dakwah ini secara nyata bisa dicermati dari perjalanan dakwah para nabi dan rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an telah banyak menggambarkan hal itu. Beragam tindak sarkasme seperti cemooh, menjuluki dengan sesuatu yang tiada patut, pelecehan, hardikan, dan kata-kata kasar lainnya kerap menghambur dari lisan orang-orang yang menyimpan hasad serta permusuhan terhadap dakwah dan pelaku dakwah. Tak hanya itu, boikot bahkan ancaman bunuh pun bisa mewarnai perjalanan dakwah. Cermati firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30)
Hanya orang-orang yang dikaruniai kesabaran yang kelak bertahan tegar menghadapi ujian. Kokoh dalam kancah dakwah. Cobaan yang menimpanya dihadapi dengan sabar seraya menanti saat tibanya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an memberi gambaran betapa dahsyat ujian yang menimpa orang-orang terdahulu.
Firman-Nya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214)

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-’Ankabut: 2-3)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (Ali Imran: 142)
Para sahabat g pernah berkeluh kesah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait ujian yang menimpa saat memperjuangkan Islam. Hadits dari Khabbab bin Al-Art rahiyallahu ‘anhu bertutur tentang hal itu. Khabbab rahiyallahu ‘anhu berkata:
Kami berkeluh kesah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau tengah berbantal kain burdah dalam naungan Ka’bah. Kami berkata: “Tidakkah engkau memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau mendoakan kami?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, seorang lelaki diambil lantas ditanam dalam tanah. Dalam keadaan seperti itu, kemudian didatangkan gergaji yang diletakkan di atas kepalanya. Maka (akibat digergaji) jadilah kepalanya terbelah dua. Lantas tubuhnya disisir dengan sisir yang terbuat dari besi hingga mengelupas daging dari tulangnya. Namun demikian, tidaklah hal itu menjadikan dia terhalang dari agamanya (dia tetap kokoh dalam agamanya). Sungguh Allah akan menyempurnakan agama ini hingga orang yang berkendaraan tidak merasa takut, kecuali hanya kepada Allah, saat melintas dari Shan’a ke Hadramaut. Begitu pula tanpa takut serigala akan memakan kambingnya. Akan tetapi kalian bersikap tergesa-gesa.” (HR. Al-Bukhari no. 6943)
Dalam menjelaskan hadits tersebut, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu mengungkapkan, (hadits) ini merupakan isyarat perihal wajibnya bersabar kala menghadapi cobaan dalam menunaikan agama. (Syarhu Shahih Al-Bukhari, 9/356)
Sesungguhnya sikap sabar kepada Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menghadapi cobaan merupakan salah satu sebab (seseorang) masuk surga. Karena sesungguhnya makna ayat (dari surat Al-Baqarah: 214) yaitu bersabarlah kalian hingga kalian masuk surga. (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 3/42)
Dalam kehidupan dakwah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun banyak mengalami gangguan dan tantangan. Tengoklah bagaimana ujian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat bertandang ke Thaif. Berupaya menyampaikan Islam dengan penuh kasih sayang dan rahmah. Namun, apa yang beliau terima sebagai balasan? Tiada lain sikap sarkasme penduduk Thaif. Beliau menetap di Thaif selama sepuluh hari. Tak tertinggal satu orang pun dari tokoh-tokoh mereka untuk didatangi dan diajak kepada Islam. Akan tetapi, mereka tak mau menerima dakwah beliau, bahkan mengusir dan memprovokasi orang-orang jelata yang bodoh untuk melempari batu serta mencaci-maki beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Darah pun mengalir dari tubuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Hingga kedua sandal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terwarnai darah yang keluar dari tubuh. Begitu pun yang dialami Zaid bin Haritsah rahiyallahu ‘anhu yang turut mendampingi beliau berdakwah ke Thaif. Sahabat mulia satu ini melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tubuhnya. Maka kepalanya pun terluka. Caci-maki dan lemparan batu terus ditimpukkan ke arah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Haritsah rahiyallahu ‘anhu oleh orang-orang bodoh Thaif, hingga beliau sampai di pinggiran kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah, yang merupakan putra Rabi’ah.
Apa yang menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tak cuma itu. Persekongkolan kaum musyrikin untuk membinasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa diupayakan sekeras-kerasnya. Bahkan mereka melakukan satu tindakan untuk membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah ujian dalam dakwah. Ujian yang selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang merindukan surga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“Neraka itu dihijab (dipagari/dikelilingi) dengan syahwat, sedangkan surga dihijab dengan hal-hal yang tidak menyenangkan (dibenci).” (HR. Al-Bukhari no. 6487)
Yang dimaksud bil makarih (yang tidak menyenangkan) dalam hadits di atas adalah segala sesuatu yang diperintahkan terhadap orang-orang yang telah terkena kewajiban menunaikan syariat agar dirinya bersungguh-sungguh dalam mengerjakan (kebaikan) dan meninggalkan (hal yang dilarang). Seperti, bersegera menunaikan berbagai peribadatan dan menjaganya, serta menjauhi segala macam larangan baik dalam bentuk ucapan atau perbuatan. Dikatakan al-makarih (tidak disenangi) lantaran tingkat kesulitan dalam menggapai surga, sehingga memerlukan kesabaran terhadap berbagai musibah yang menimpa dan sikap pasrah diri (patuh) dalam menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan yang dimaksud kata bisy-syahawat yaitu segala sesuatu yang bisa mengundang kenikmatan pada perkara-perkara dunia padahal itu dilarang oleh syariat. Terkait syahwat ini juga, yaitu segala sesuatu yang dikhawatirkan mengantarkan seseorang terjatuh pada yang haram. (Fathul Bari, 11/360)
Adapun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, yang dimaksud kata hujibat pada hadits tersebut yaitu memagari (mengelilingi). Neraka adalah tempat syahwat, yang orang-orang tak akan merasa tenang kecuali dengan mengikuti syahwat mereka, seperti syahwat zina, homoseksual, minum khamr, mencuri, sombong, dan segala bentuk kerusakan tersebut adalah syahwat. Yang semua ini melingkupi neraka. Karena hal-hal ini pula banyak manusia yang bermewah-mewah terjatuh ke dalam neraka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ. فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ. وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ. لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ. إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.” (Al-Waqi’ah: 41-45)

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’: 16)
Adapun surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disenangi, karena sesungguhnya beramal kebaikan itu adalah sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa yang dikendalikan kejelekan. Maka terjadilah pada kalangan manusia, tatkala beramal kebaikan jiwanya tidak menyukai atau benci mengerjakan kebaikan tersebut. Padahal beramal kebaikan itu akan mengantarkan dirinya ke surga. (Syarhu Shahih Al-Bukhari, 8/382)
Maka, sudah menjadi kemestian bahwa sikap sabar dalam menyebarkan nilai-nilai kebajikan harus tertancap kukuh di dada setiap pejuang dakwah.
Pada musim haji tahun ke-11 dari kenabian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan penduduk Yatsrib (Madinah). Mereka menyatakan memeluk Islam dan berjanji untuk menyampaikan risalah Islam kepada kaumnya. Kemudian pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke-12 dari kenabian, 12 orang penduduk Madinah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka terdiri dari lima orang yang pernah bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada musim haji sebelumnya, selain Jabir bin Abdillah bin Ri’ab yang pada tahun itu tidak bisa hadir. Adapun tujuh orang lagi yaitu Mu’adz bin Al-Harits (Ibnu ‘Afra dari Bani Najjar, Khazraj), Dzakwan bin Abdil Qais (Bani Zuraiq, Khazraj), Ubadah bin Ash-Shamit (Bani Ghanmin, Khazraj), Yazid bin Tsa’labah (Khazraj), Al-’Abbas bin Ubadah bin Nadhlah (Bani Salim, Khazraj), Abul Haitsam bin At-Tayyahan (Bani Abdil Asyhal, Aus), dan ‘Uwaim bin Sa’adah (Bani ‘Amr bin ‘Auf, Aus). Hanya dua orang dari suku Aus sedangkan sisanya dari kalangan suku Khazraj. Mereka semua datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di satu tempat bernama ‘Aqabah, yang masih termasuk wilayah Mina. Mereka diajak untuk berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Kemarilah, berbai’atlah kepadaku,” kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun lantas berbai’at bahwasanya tidak akan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan mendatangkan (kesaksian) dusta yang diada-adakan antara tangan-tangan dan kaki-kaki mereka (seperti menuduh zina), tidak akan bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal yang baik. Barangsiapa yang memenuhi bai’at tersebut maka balasannya atas tanggungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa melanggar bai’at tersebut maka sanksinya bakal diperoleh di dunia, dan itu berarti kaffarah (penghapus) bagi dosanya. Tapi bila yang melanggar lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya, maka terserah kepada Allah l kelak di akhirat. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki disiksa, maka dia akan disiksa. Jika Allah l menghendaki dengan ampunan-Nya, maka dia akan mendapatkan maaf (ampunan). Demikian peristiwa bai’at pertama dalam lintasan sejarah Islam. Bai’at yang syar’i. Dalam catatan sejarah, bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah Pertama.
Setahun kemudian, yakni pada musim haji pula, 73 orang Madinah yang telah muslim datang ke Makkah sebagai orang-orang yang hendak berhaji, ditambah dua orang wanita, yaitu Nusaibah bintu Ka’b dan Asma’ bintu ‘Amr. Mereka pun bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berbai’at kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Wahai Rasulullah, kami berbai’at kepadamu,” kata mereka. “Untuk apa saja kami berbai’at kepadamu?” lanjut mereka. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut rincian bai’at. Yaitu untuk: “Mendengar dan taat baik dalam keadaan bersemangat ataupun malas, berinfak kala sulit ataupun mudah, menunaikan amar ma’ruf nahi munkar, beristiqamah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tak akan mudah terpengaruh meski orang-orang mencela, menolongku (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) apabila aku datang kepada kalian, serta akan melindungiku seperti mereka melindungi istri dan anak kalian. Maka, (jika semua itu ditunaikan) bagi kalian surga.” Inilah bai’at Aqabah yang kedua, atau dikenal pula sebagai bai’at Aqabah Al-Kubra. (Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 165-172)
Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikenal pula Bai’at Ar-Ridhwan. Sebuah bai’at nan agung. Kisah ini berawal dari keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melangsungkan umrah. Pada tahun Hudaibiyah tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berkunjung ke Baitullah dan bukan bertujuan untuk berperang. Namun apa yang dicita-citakan ternyata mengalami hambatan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Dzul Hulaifah, beliau dan rombongan yang berjumlah 1.400 orang menambatkan hewan-hewan yang dibawanya, lantas berihram untuk umrah. Beliau terus berjalan hingga tiba di daerah Usfan. Saat itulah, ada yang memberitahu bahwa orang-orang Quraisy yang musyrik telah melakukan mobilisasi massa dan bersiap untuk bertempur. Pasukan kaum musyrikin Quraisy itu sendiri saat itu telah berada di daerah Dzu Thuwa. Mereka benar-benar menghalangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk masuk ke Baitul Haram. Maka, terjadilah negosiasi antara kedua belah pihak. Pada awalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mengutus Umar bin Al-Khaththab rahiyallahu ‘anhu ke pihak kaum musyrikin. Namun atas pertimbangan bahwa di Makkah tidak ada orang dari Bani ‘Adi bin Ka’b yang bisa memberi perlindungan kepada Umar, maka rencana mengutus Umar dibatalkan. Umar pun lantas mengusulkan agar yang diutus ke Makkah adalah Utsman bin Affan rahiyallahu ‘anhu. Maka berangkatlah Utsman bin Affan rahiyallahu ‘anhu ke Makkah, beliau menemui Aban bin Sa’id bin Al-’Ash. Melalui Aban bin Sa’id bin Al-Ash ini, Utsman bin Affan rahiyallahu ‘anhu mendapatkan kekebalan diplomatik. Di Makkah, Utsman rahiyallahu ‘anhu berhasil menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy lainnya lalu menyampaikan apa yang menjadi misinya. Pihak Quraisy lantas menahan Utsman rahiyallahu ‘anhu lantaran mereka ingin bermusyawarah. Namun penahanan Utsman bin Affan rahiyallahu ‘anhu ini menimbulkan berita simpang siur. Berita yang tersebar menyatakan bahwa Utsman bin Affan rahiyallahu ‘anhu telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Atas tersiarnya berita ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil para sahabat untuk berbai’at. Mereka pun berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak melarikan diri dan berjuang hingga tetes darah penghabisan, yaitu hingga mati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil bai’at ini di bawah pohon. Bai’at inilah yang dikenal kemudian sebagai Bai’at Ar-Ridhwan. Berkenaan dengan bai’at ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (Al-Fath: 18)

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللهَ يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al-Fath: 10)
Dampak dari adanya Bai’at Ar-Ridhwan ini, kaum musyrikin menjadi gentar. Sehingga melahirkan perjanjian Hudaibiyah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/224-229, dan Ar-Rahiqul Makhtum hal. 351-352)
Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat g berbai’at kepada para khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam; Abu Bakr, Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib g.
Namun setelah berlalu generasi utama, datanglah generasi yang mengada-ada dalam masalah bai’at ini. Muncul di kalangan Sufi apa yang disebut dengan bai’at thariqah (tarekat). Muncul pula kemudian bai’at-bai’at di kalangan jamaah Islamiyah. Masing-masing kelompok atau jamaah memberlakukan bahkan mewajibkan melakukan bai’at kepada imam atau amir kelompok atau jamaahnya. Hadits-hadits terkait masalah keamiran atau keimamahan pun dipelintir habis guna kepentingan sang amir/imam atau guna kepentingan kelompok/jamaahnya. Misal, hadits dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim (no. 1484):
مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan berpisah (menyempal) dari jamaah, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliah.”
Hadits lain, misal hadits dari Ibnu Umar rahiyallahu ‘anhuma:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan, dia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah padanya. Barangsiapa mati dan di lehernya tidak terikat bai’at, dia mati dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim no. 1851)
Merebaklah bai’at-bai’at hizbiyyah (kekelompokan). Masing-masing jamaah mengangkat imam atau amir, lalu mereka pun memberlakukan bai’at pada kelompoknya. Muncullah kebingungan pada sebagian pemuda muslim saat melihat begitu banyak jamaah. Mereka bingung hendak ke mana mereka bergabung. Sungguh, tidak diragukan lagi bahwa dampak buruk dari adanya bai’at-bai’at hizbiyah, atau namanya dikemas dengan nama selain bai’at, seperti ‘ahd (perjanjian) atau ‘aqd (ikatan), justru menimbulkan perpecahan pada tubuh umat Islam, mencerai-beraikan umat menjadi bergolong-golongan, menimbulkan permusuhan dan kebencian satu dengan lainnya.
Terhadap bai’at-bai’at hizbiyah atau bai’at-bai’at thariqah, maka tidak wajib menaati. Bahkan hal yang demikian wajib ditinggalkan. Ini semua lantaran bentuk-bentuk bai’at semacam itu tidak diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diperbuat oleh generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Bai’at-bai’at semacam itu justru menjadikan pelakunya terjatuh pada dosa karena dia telah melakukan perbuatan bid’ah, mengada-ada satu bentuk amalan tanpa ada contoh atau perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun terkait perintah untuk berbai’at sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits shahih, maka maksud berbai’at tersebut adalah kepada waliyyul amr atau imamatul uzhma (penguasa tertinggi). Bukan amir atau imam kelompok atau jamaah. Sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi t, saat menjelaskan kesesatan model bai’at yang diterapkan pada kelompok Ikhwanul Muslimin, bahwa sesungguhnya bai’at itu merupakan hak bagi imamatul a’la (penguasa tertinggi). Barangsiapa yang mengambil bai’at selain imamatul a’la, sungguh dia telah melakukan bid’ah (mengada-ada) dalam urusan agama. Dia melakukan bid’ah yang jelek.
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
“Jika dibai’at dua khalifah, maka bunuhlah oleh kalian yang lain (yang terakhir dibai’at) dari keduanya (yang mengeksekusi adalah pemerintah yang sah, red.).” (HR. Muslim no. 1853, dari Abu Sa’id Al-Khudri rahiyallahu ‘anhu) [Al-Mauridu Al-’Adzbu Az-Zalal, hal. 214]
Lantaran bai’at-bai’at thariqah atau bai’at-bai’at hizbiyah tidak ada asalnya dalam syariat, maka ikatan janjinya tidak mengikat, tidaklah berdosa untuk menggugurkan dan melepaskan bai’at semacam itu.
Wallahu a’lam.
Artikel Lainnya

:: Peringatan dari Bahaya Godaan Harta
:: Hukum Onani
:: Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bag 2
:: Nabi Yusuf dan Istri Pembesar (Sebuah Renungan), bag 2
:: Sifat-sifat Penghuni Neraka
:: Perang Hunain, bag 2
:: Dahsyatnya Ujian Wanita dan Dunia
:: Jauhilah Sifal-sifat Munafik
:: Janji Setia Seorang Muslim
:: Persatuan adalah Rahmat, Perpecahan adalah Adzab
:: Bai’at Bid’ah di Kalangan Hizbiyyah
:: Konsekuensi Bai’at
:: Bagaimana Seseorang Berbai’at?
:: Kapan Bai’at Dianggap Sah?
:: Hukum Membatalkan Bai’at

Lanjut lagi......

folder aku

Kajian.Net

Kajian.Net

Kajian.Net

Lanjut lagi......

Kamis, 22 Juli 2010

warungku






















Rahasia agar Dihargai Suami


Setiap istri tentu ingin dihargai oleh suaminya. Tidak diremehkan atau dipandang sebelah mata, atau dimaki-maki dan dibentak-bentak. Semua ingin disayang, dihargai, dan disikapi secara manusiawi oleh sang belahan hati.
Namun sayang, tak semua istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya. Ada kalanya itu disebabkan karena sikap, tutur kata serta perilaku istri sendiri, yang membuat suami jengah.
Terkadang memang ada istri yang sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik, namun suami tetap tak bisa menghargainya. Jika seperti itu, mungkin suaminya tergolong awam dalam agama, sehingga tidak mengerti bagaimana harus bersikap terhadap istri.

PENGHARGAAN SUAMI TERHADAP ISTRI

Seorang suami yang salih, akan senantiasa teringat sabda Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – ,

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik dari kalian bagi istriku.” (Riwayat Tirmidzi)

Karena itu, ia akan selalu berusaha mencontoh Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – , bersikap baik terhadap istri, dan senantiasa menghargainya. Apa saja bentuk penghargaan suami terhadap istrinya? Di antaranya:

- Memberikan panggilan yang terbaik dan paling disukainya

Suami yang menyayangi serta mencintai istrinya, tentu tak ragu untuk mengungkapkan rasa sayangnya, di antaranya dengan memanggil istri menggunakan panggilan “sayang”, atau panggilan yang paling disukainya. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – , yang senang memangil Ummul Mukminin Aisyah – rodhiyallohu ‘anha – dengan “Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan). Panggilan seperti “Adik” atau “Adinda” saja, insyaallah sudah cukup membuat seorang istri senang.

- Mempergaulinya dengan lemah lembut

Suami yang menghargai istrinya, akan berusaha mempergauli istrinya dengan lemah lembut, baik dalam sikap maupun tutur kata. Ia akan berusaha menjauhi sikap kasar dan keras terhadap istri. Kalau istrinya bersalah atau mengecewakannya, ia akan menasihatinya dengan santun. Tidak dengan makian, bentakan, dan bahkan tamparan di wajah.

- Murah senyum/menunjukkan wajah ceria

Menunjukkan wajah yang ceria di hadapan istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istrinya. Istri yang selalu melihat senyum dan keceriaan di wajah suaminya, tentu akan lebih mudah untuk merasakan kebahagiaan. Berbeda bila suami selalu menunjukkan wajah cemberut. Istri akan merasa serba salah dan tak bahagia, karena merasa suaminya tak pernah bisa bahagia bersamanya.

- Memberikan pujian

Pujian suami terhadap istri, juga salah satu bentuk penghargaan suami. Meskipun terlihat sepele, namun pujian yang tulus dari seorang suami bisa menimbulkan efek psikologis yang sangat besar bagi seorang istri. Misalnya mendongkrak semangat, menambah percaya diri, dan tentu saja membuat hatinya berbunga-bunga penuh bahagia. Pada dasarnya, setiap wanita senang dengan pujian, terlebih dipuji oleh belahan hati yang sangat dicintainya.

- Memberikan hadiah

Hadiah adalah pembawa pesan cinta, serta menjadi salah satu bentuk penghargaan suami terhadap istri. Akan lebih berkesan, bila hadiah diberikan tanpa pemberitahuan lebih dulu sehingga menjadi kejutan yang membahagiakan.

- Membantu istri mengurus rumah

Pekerjaan rumah tangga hampir tak ada habisnya. Suami yang baik, akan berusaha meringankan beban istrinya dalam mengurus rumah tangga. Misalnya membantu istri mencuci, menjemur pakaian, bersih-bersih dan semisalnya. Dengan demikian seorang istri akan merasa lebih dimengerti dan dihargai oleh suaminya.

- Membantu istri mengurus anak

Penghargaan suami juga bisa diwujudkan dengan membantu istri mengurus anak. Mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sekaligus mengurus anak, tentu sangat repot dan menguras energi. Terutama bagi yang anaknya masih batita (di bawah tiga tahun), apalagi lebih dari satu. Ketika suami mau membantu mengurus anak, berarti ia telah mengurangi kerepotan istri, dan membuatnya lebih tenang dalam menyelesaikan berbagai macam pekerjaan rumah.

- Memperhatikan kesehatannya

Suami yang menghargai istrinya, akan sangat memperhatikan kesehatan sang istri. Ketika melihat istrinya sakit, maka ia akan segera berusaha mencarikan obatnya. Ia pun akan lebih perhatian terhadap istri, dan menyuruh istrinya banyak beristirahat.

- Berbakti kepada kedua orangtuanya

Berbakti kepada orang tua istri atau mertua, juga merupakan wujud penghargaan suami kepada istrinya. Bakti suami tersebut akan membahagiakan istri serta kedua orangtuanya.

- Menjalin silaturahim dengan kerabatnya.

Penghargaan suami terhadap istrinya, juga bisa ditunjukkan dengan menjalin silaturahim dari kerabat pihak istri, serta berbuat baik terhadap mereka.

KIAT MERAIH PENGHARGAAN SUAMI

Bagaimana agar seorang istri bisa mendapatkan penghargaan dari suaminya? Berikut ini beberapa kiatnya.

- Menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan baik

Untuk memperoleh penghargaan suami, seorang istri harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik. Di antaranya melayani suaminya di tempat tidur, menyiapkan makan dan minumnya, serta membereskan rumah serta mengurus anak-anak. Istri harus berusaha menyukai berbagai pekerjaan rumah tersebut, dan mengusir rasa bosan dan jenuh yang kadang hinggap di hati. Bagi wanita, memberikan pelayanan yang maksimal kepada suami dan mencari keridhaannya, akan memperoleh pahala yang sangat besar, menyamai pahala seorang lelaki yang keluar rumah untuk beribadah ataupun berjihad.

- Bersikap lemah lembut

Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam - bersabda kepada Ummul Mukminin Aisyah – rodhiyallohu ‘anha – , “Wahai Aisyah, engkau mesti bersikap lembut dan jauilah sikap kasar dan kotor!” (Muttafaq ‘alaih)

Wasiat Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam - ini hendaknya juga selalu diingat oleh para istri. Dengan kelemahlembutan, keridhaan dan penghargaan suami lebih mudah teraih.

- Tidak banyak menuntut

Seorang suami tidak suka istri yang banyak menuntut ini dan itu di luar kemampuan suaminya. Karena itu sebaiknya seorang istri bersikap qanaah, menerima dan mensyukuri seberapa pun pemberian suami. Bila nafkah dari suami kurang mencukupi, istri bisa membantu mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah atau sesuai dengan fitrah wanita. Misalnya menjahit, menulis membuat dan menitipkan makanan ke warung-warung dan semisalnya.

- Pandai berterima kasih

Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam - bersabda, “Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak sudi melihat seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal ia selalu butuh kepadanya.” (Riwayat an-Nasa’i)

Ucapan terima kasih juga merupakan penghargaan istri kepada suaminya. Suami yang merasa dihormati dan dihargai oleh istrinya, tentu akan semakin mencintai istrinya dan juga menghargainya.

- Pandai menyenangkan hati suaminya

Ini adalah jalan pintas untuk mengambil hati suami dan mendapatkan penghargaannya. Yaitu dengan selalu berusaha menyenangkan hatinya dalam setiap kesempatan. Misalnya dengan berdandan yang anggun untuknya, membuatkan makanan kesukaannya, memelihara kebersihan dan kerapian rumah, dan sebagainya.

- Pandai menghibur hati suami

Suami akan lebih menghargai istri yang bisa menghiburnya dan mau menjadi pendengar yang baik untuk menampung segala keluh kesahnya. Sebaliknya, ia akan sangat tersiksa bila istrinya malah sering membuat masalah dan membuatnya susah.

- Menjadi sebaik-baik perhiasan dunia

Inilah jurus pamungkas untuk meraih penghargaan suami. Yaitu dengan menjadi sebaik-baik perhiasan dunia baginya. Yang menyenangkan bila dipandang, taat saat diperintah, dan bisa menjaga rumah dan hartanya saat dia bepergian.

Semoga kiat-kiat sederhana ini, bisa membantu Anda mendapatkan penghargaan dari suami. (ummu husna)

VN:F [1.6.2_892]
Jika Anda ingin menarik lebih banyak klien, tingkatkan layanan pasar Anda dengan professional. Tetapi Anda tidak bisa sembarangan pasar untuk mengharapkan hasil yang konsisten. Anda harus memakai pelayanan pasar yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang sudah terbukti. Artikel singkat ini menguraikan prinsip-prinsip dan memberikan pemilik bisnis jasa profesional kunci pertumbuhan bisnis mereka dengan membutuhkan sedikit perjuangan dan usaha.

1. Pemasaran adalah sebuah permainan

Tidak banyak pemilik bisnis melihat pemasaran sebagai permainan. Mereka melihatnya sebagai sebuah perjuangan. Tapi ini hanya sebuah perjuangan karena mereka tidak mengetahui aturan permainan dan bagaimana untuk memenangkan permainan.

Sebagai contoh mari kita lihat permainan anak jaman dulu yaitu permainan bola kasti. Dalam kasti ada empat kegiatan utama - melempar bola, menangkap bola, memukul bola dan berlari. Sangat sederhana. Jika Anda mengambil seseorang yang sangat ahli dalam keempat bidang tersebut tetapi tidak tahu aturan main kasti dan menyuruhnya bergabung dengan tim kasti, ia akan berjuang selama beberapa waktu. Permainan kasti akan menjadi aneh dan membingungkan, sampai dia tahu aturan permainan tersebut.

Ini sama dengan pemasaran. Sebagian besar dari kita mengetahui kegiatan-kegiatan dasar pemasaran - jaringan, menulis, berbicara, mengirim email, dll, tapi kita jarang melihatnya sebagai sebuah permainan dengan aturan-aturan yang sangat spesifik mengarah pada menarik klien secara konsisten.

Kegiatan pemasaran kita terlibat dalam banyak aturan. Jika kita bisa menemukan bahwa dalam pemasaran tersembunyi aturan yang menjelaskan bagaimana untuk memindahkan klien sepanjang pos per pos dengan beberapa prediktabilitas, pemasaran tidak lebih dari sebuah perjuangan dan jauh lebih menyenangkan ketika Anda mulai memenangkan pertandingan dengan beberapa keteraturan.

Memperkenalkan lingkaran pemasaran

Lingkaran Pemasaran adalah nama yang saya berikan kepada proses yang akhirnya membuat beberapa arti dari permainan pemasaran. Lingkaran pemasaran menguraikan aturan, keterampilan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk memenangkan permainan.

Lingkaran Pemasaran dibangun berdasarkan premis sederhana bahwa setiap orang yang sekarang menjadi klien pernah menjadi orang asing dan bahwa tujuan pemasaran adalah untuk membangun hubungan dengan calon pelanggan sampai mereka merasa nyaman berbisnis dengan Anda.

Hubungan tersebut dibangun satu langkah pada satu waktu melalui proses dan metode sangat logis. Bahkan jika Anda tidak menyadari bahwa Anda sedang bermain lingkaran pemasaran. Tapi ketika Anda menguasai permainan Anda akan menemukan bahwa Anda dapat mengkonversi prospek menjadi klien lebih cepat dan terpercaya.

Seperti kasti yang saya terangkan sebelumnya, dalam lingkaran pemasaran, Anda memindahkan prospek yang cemerlang dari satu basis pada satu waktu. Anda mulai di pangkalan bersenjata dengan pesan pemasaran Anda. Ketika Anda menyampaikan pesan itu, tujuan Anda adalah untuk mendapatkan prospek ke base pertama. Anda berada di base pertama ketika Anda memiliki perhatian dan minat dari prospek.

Base kedua adalah ketika seorang calon pelanggan siap untuk menjajaki bekerja sama dengan Anda. Base ketiga adalah di mana prospek yang siap untuk membeli dari Anda adalah di mana Anda telah terwujud penjualan dan mulai bekerja dengan klien baru Anda.

Menguasai permainan lingkaran pemasaran adalah masalah memahami dan mempraktikkan "memainkan pemasaran" antara basis dan secara bertahap memindahkan prospek dari orang asing menjadikan klien yang membayar “pelanggan”.

Lingkaran Pemasaran adalah bukan tentang mendapatkan pekerjaan dari rumah dengan memberikan pesan pemasaran yang sempurna (tidak ada hal seperti itu), tapi dengan memindahkan prospek dari satu tempat saat mereka mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana layanan Anda bekerja dan bagaimana mereka akan merasakan manfaat dari bekerja dengan Anda .

2. Setelah Mindset Pemasaran yang Tepat

Jika pemasaran adalah sebuah perjuangan untuk para profesional, mereka tidak hanya memahami permainan pemasaran, mereka tidak boleh memiliki sikap buruk tentang hal itu. Sikap ini, atau apa yang saya lebih suka menyebut Mindset, warna pendekatan pemasaran dan cenderung mengakibatkan kita menghindari sebagian besar kegiatan pemasaran.

Sebuah pola pikir pemasaran, adalah bagaimana kita berpikir tentang pemasaran. Itu sikap kita, pikiran, keyakinan, harapan, rasa takut, tetap posisi, asumsi, dan keterbatasan.

Itu sangat mempengaruhi kita, tetapi kita tidak melihatnya karena begitu dekat dengan kita. Apa yang kita fokuskan, apa yang kita percaya, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita asumsikan, bentuk tindakan kita. Dan jika keyakinan ini, pikiran dan asumsi yang negatif, kita melihat pemasaran sebagai sesuatu yang buruk, sesuatu yang harus dihindari.

Berikut adalah beberapa dari keyakinan, pikiran dan asumsi saya sudah mendengar dari pakar yang Independen Profesional. Apakah ada di antara mereka terdengar akrab bagi Anda?

* Pemasaran mengarah pada penolakan
* Jika saya meminta arahan itu akan terdengar seperti Aku mohon
* Pemasaran tidak bekerja untuk jenis layanan
* Saya tidak punya waktu untuk memasarkan diri
* Hanya orang-orang dengan sub-layanan standar perlu pemasaran
* Saya tidak bisa mulai sampai aku tahu persis apa yang harus dilakukan
* Pemasaran adalah sebuah gangguan dan gangguan kepada orang-orang

Dalam bekerja dengan klien saya telah menemukan bahwa sebagian besar melekat pada pikiran secara harfiah dan keyakinan yang mengarah pada penghindaran pemasaran.

Bagaimana pola pikir Pemasaran Kerja

Tanggapan kebanyakan dari kita memiliki pola pikir pemasaran negatif adalah untuk melawan mereka. Misalnya, Anda pernah mendengar bahwa jaringan dapat berguna bagi bisnis Anda. Tapi anda tidak menikmatinya karena keyakinan Anda bahwa "tidak ada yang menghadiri acara jaringan kebutuhan pelayanan saya." Tapi anda menolak itu, memasang wajah gembira dan mencoba yang terbaik, berjuang melalui setiap peristiwa yang Anda hadapi. Pada akhirnya pengalaman Anda memferifikasi kepercayaan dan koneksi jaringan yang Anda berikan sebagai pemborosan waktu.

Ketika Anda terjebak dalam pola pikir pemasaran negatif, segala sesuatu yang terjadi dengan pola pikir yang ruwet. Orang ingin realitas agar konsisten dengan kepercayaan mereka dan ini membuat sulit untuk mengubah pola pikir.

Kadang-kadang sesuatu akan terjadi yang menantang keyakinan Anda dan hal-hal yang dapat berubah sangat cepat. Sebagai contoh Anda pergi ke acara networking dan berhubungan dengan seseorang yang berubah menjadi klien terbaik Anda. Anda kemudian mulai mempertanyakan keyakinan Anda tentang jaringan karena bukti baru adalah bahwa ia bekerja untuk Anda.

Mulai soal pola pikir Anda

Apa yang telah terjadi kepada sebagian orang bagaimanapun, adalah untuk memulai mempertanyakan pola pikir Anda bahkan sebelum Anda memiliki bukti yang dapat diamati bahwa itu tidak benar. Ini sederhana namun perlu pendekatan sangat kuat, jangan merusak fikiran Anda dengan ketidak yakinan yang dapat menghambat Anda.

Benarkah bahwa semua pemasaran mengarah kepada penolakan, bahwa meminta adalah memohon arahan, bahwa Anda tidak punya waktu untuk memasarkan diri Anda sendiri, bahwa Anda tidak dapat memulai sampai Anda tahu persis apa yang harus dilakukan? Mungkin tidak.

Sekali Anda mulai untuk menyelidiki pola pikir Anda, dengan maksud untuk menemukan kebenaran, Anda akan terkejutkan diri sendiri dan benar-benar menyadari bahwa lawan dari keyakinan ini benar atau lebih benar. Dalam pengalaman pribadi saya, saya telah menemukan bahwa pemasaran mengarah pada penerimaan, bahwa meminta sumbangan downline, ada waktu untuk melakukan pemasaran dan Anda bahkan dapat mulai tanpa tahu persis apa yang harus dilakukan.

Belajar dan menguasai proses penyelidikan mengenai berbagai hal yang membatasi pola pikir pemasaran dapat mengubah pandangan Anda tentang pemasaran selamanya. Bagi banyak orang, ini telah mengubah pengalaman mereka pemasaran dari salah satu perjuangan, usaha dan hasil yang buruk menjadi pengalaman, keterlibatan dan konsisten hasil yang baik.

3. Memahami Bahasa Pemasaran

Pemasaran sebenarnya memiliki sebuah bahasa. Dan tujuan dari bahasa ini adalah untuk mendapatkan perhatian, membangkitkan minat dan memotivasi orang untuk mengambil tindakan untuk mengetahui lebih lanjut tentang layanan Anda.

Jika Anda memahami bahasa ini dan berbicara itu lancar, Anda akan lebih sukses pada prospek yang bergerak pada basis lingkaran pemasaran dan akhirnya mengubahnya menjadi klien.

Bahasa pemasaran didasarkan pada apa yang saya sebut "Sintaks Pemasaran." Sintaks adalah urutan hal. Sintaks menciptakan makna. Sebagai contoh, urutan huruf dalam sebuah kata kata itu memberikan makna dan urutan kata dalam kalimat memberikan makna kalimat itu.

Saya juga menemukan bahwa urutan di mana Anda menyajikan ide pemasaran menentukan arti pendengar menempel pada pesan Anda. Dengan kata lain, jika Anda menyampaikan pesan pemasaran Anda dalam urutan tertentu yang menggunakan sintaks pemasaran, Anda akan mendapatkan lebih banyak perhatian dan minat daripada jika Anda menggunakan urutan yang berbeda.

Sebagai contoh ketika orang bertanya kepada kami apa yang kami lakukan, kita sering menjawab secara harfiah, yaitu kita memberitahu mereka label atau kami proses kami. Kita berkata, "saya seorang engineer. Saya menjalankan dan mengawasi project. "Itu akurat, tapi itu bukan pesan yang sangat menarik perhatian. Pendengar berpikir, "Apa untungnya bagi saya?"

Tiga langkah pertama pemasaran sintaks adalah sebagai berikut:

1. Target Pasar - Maksudnya, siapa yang bekerja dengan Anda?
2. Masalah / Challenge - Isu apa yang dimiliki dilakukan klien Anda?
3. Hasil - Hasil apa yang dapat dilakukan untuk klien Anda?

Sintaks ini dapat digunakan kapan saja Anda berkomunikasi tentang bisnis Anda, secara lisan atau secara tertulis. Ketika Anda menggunakannya, nilai perhatian Anda akan naik secara dramatis. Mari kita lihat langkah-langkah ini sedikit lebih mendalam.

Ketika seseorang bertanya apa yang Anda lakukan, kata-kata pertama keluar dari mulut Anda perlu tentang siapa yang bekerja dengan Anda. Hal ini menciptakan fokus: "Saya bekerja dengan multi-perusahaan telekomunikasi nasional" atau "Saya bekerja dengan kontraktor telekomunikasi." Saat Anda mengidentifikasi siapa klien ideal Anda, Anda dapat langsung pendengar mengetahui apakah Anda dapat membantu mereka.

Berikutnya Anda mengatakan masalah atau tantangan alamat Anda. "... Yang dipukuli oleh outsourcing" atau "... yang margin keuntungan menyusut." Ketika Anda menyebutkan masalah, jika Anda dapat mengatasi masalah mereka, mereka akan sadar bahwa Anda tahu sesuatu yang penting tentang mereka.

Akhirnya, Anda mengkomunikasikan dan benar-benar memberikan hasil. Ini adalah apa yang akan klien jika Anda bekerja dengan mereka. "Kami membantu klien kami mempertahankan margin keuntungan mereka dalam perekonomian outsourcing."

Dengan pemahaman ini sintaks pemasaran, Anda dapat mulai untuk mengembangkan pribadi Anda sendiri melalui pesan pemasaran.

4. Membuat pesan Pemasaran yang Powerfull

Setelah Anda memahami dasar-dasar sintaks Pemasaran, Anda memiliki blok bangunan yang memungkinkan Anda untuk menciptakan pesan pemasaran yang benar-benar mengkomunikasikan nilai sebenarnya yang Anda tawarkan.

Masalah bisnis jasa yang paling profesional dapat di temukan dalam pengembangkan pesan seperti itu adalah sebagai berikut:

1. Pesan tidak diarahkan ke target pasar.
2. Pesan gagal mengenai sasaran.
3. Pesan berbicara tentang pelayanan, bukan solusi.
4. Pesan mencoba untuk mengatakan terlalu banyak dan semakin berat.
5. Pesan tidak mengatakan cukup dan menjadi samar.

Semua ini relatif mudah untuk memecahkan sebagai contoh-contoh ini menunjukkan:

Tidak diarahkan ke target pasar:

Setiap pesan pemasaran harus mulai dengan sesuatu seperti: "Kami bekerja dengan klien seperti ini ..." atau "Kami membantu klien seperti ini ... (masukkan sesuai demografis atau psikografis)."

Gagal mengenai sasaran

Bicara tentang masalah, tantangan, masalah, sakit, atau keadaan yang merupakan gejala dan jelas diamati. Katakanlah: "Kami bekerja dengan manajer yang berjuang untuk mencapai sasaran keuangan mereka." Ini mereka dapat mengerti, dan ini hits sasaran. Jangan berkata, "Kami bekerja dengan manajer yang menyingkirkan mereka kesempatan keuangan yang optimal." Hah? Jangan tertawa, aku sudah mendengar lebih buruk.

Berbicara tentang pelayanan, bukan solusi

Ketika Anda berbicara tentang pelayanan, saya harus menerjemahkan apa artinya bagi saya. Jika Anda mendapatkan tepat ke solusi, hasil dan hasil, saya melihat manfaat langsung. "Kami menawarkan program maksimalisasi retensi," adalah tidak sebagus, "Kami memiliki layanan yang akan meningkatkan retensi karyawan terbaik Anda." Sekarang yang memiliki nilai.

Mengatakan terlalu berlebihan.

Untuk menarik perhatian seseorang, Anda perlu berkomunikasi dengan suara bermakna yang menggigit. Kalimat yang terlalu berlebihan atau lebih buruk lagi, pesan dengan beberapa target, masalah, dan solusi, hanya akan membingungkan orang saja.

Mengatakan terlalu sedikit

Anda mungkin memahami pesan yang telah Anda peroleh, tapi audiens banyak membutuhkan beberapa terjemahan. "Apa yang Anda lakukan?" "Saya seorang engineer." Tunggu, apa yang salah dengan itu? Apa-apa kecuali bahwa hal itu berarti kecuali konsultan manajemen lainnya. Tidak ada target, masalah atau solusi. Maka pertanyaan kedua puluh permainan dimulai.

Selanjutnya, Anda memperluas pemasaran Anda pesan dalam materi pemasaran tertulis yang berkomunikasi tentang layanan Anda secara lebih mendalam.

5. Mengembangkan persuasif Pemasaran Material

Apa yang persuasif? Banyak memikirkan terlalu berlebihan hiperbola. Informasi pemasaran yang baik mendidik calon pelanggan Anda tentang bagaimana layanan Anda akan menguntungkan mereka.

Materi pemasaran adalah apa yang datang setelah pesan utama pemasaran. Setelah Anda memiliki perhatian dan minat dari seseorang, Anda perlu memberikan informasi yang cukup sehingga mereka akan tahu apakah Anda dapat membantu mereka atau tidak.

Materi pemasaran, seperti situs web, brosur atau presentasi pemasaran juga menggunakan sintaks. Sebuah diskusi terbuka dengan mereka mengenai target pasar, lanjutkan dengan ikhtisar situasi prospek dan tantangan-tantangan dan kemudian mendiskusikan hasil yang diinginkan berikut solusi.

Pemasaran sintaks berlanjut dengan unsur-unsur berikut:

1. Cerita atau studi kasus dari klien Anda yang telah berhasil.
2. Manfaat, keuntungan dan fitur layanan Anda.
3. Latar belakang Anda dan perusahaan Anda untuk membangun kredibilitas.
4. Sebuah ajakan bertindak untuk membiarkan calon pelanggan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Mari kita melihat semua ini dalam sedikit lebih detail. Tujuan informasi ini adalah untuk menjawab pertanyaan tanpa diminta bersembunyi di bagian belakang prospek Anda.

6. Menentukan Strategi Pemasaran

Setelah Anda bersenjatakan dengan prinsip-prinsip pemasaran menyebutkan sebelumnya Anda siap untuk memilih strategi pemasaran atau kegiatan yang mendapatkan pesan Anda ke dunia luar dan di depan calon klien.

Mari kita mengunjungi lingkaran Pemasaran. Strategi pemasaran Anda mempekerjakan bergantung pada di mana letak prospek Anda pada model lingkaran Pemasaran model. Ingat bahwa tujuan adalah untuk memindahkan mereka di sekitar ceruk pemasaran. Pertama adalah kegiatan pemasaran untuk mendapatkan prospek ke base pertama.

Perhatian kepada pendatang baru untuk Afiliasi pemasaran

Langkah pertama Anda pindah dari base pertama adalah dasar untuk mengembangkan afiliasi dengan mereka yang mungkin dapat dilakukan klien. Afiliasi adalah hubungan antara orang-orang. Jika Anda menjadi anggota asosiasi atau organisasi, maka Anda memiliki afiliasi.

Tugas pemasaran pertama Anda adalah untuk membentuk afiliasi dengan kelompok-kelompok dan organisasi yang terdiri dari prospek atau mereka yang dapat dijadikan prospek. Mereka adalah orang-orang yang akan paling menerima pesan-pesan pemasaran Anda. Apakah jaringan Anda, membuat panggilan atau mengirim surat, jika Anda telah membuat sebuah afiliasi pertama, pesan Anda akan lebih mudah diterima dan Anda akan mendapatkan perhatian yang Anda butuhkan untuk naik ke base pertama.

Dari Perhatian terhadap Keakraban

Berangkat dari base pertama, base kedua adalah proses yang lebih panjang di mana Anda mengenal calon pelanggan dan mereka mengenal Anda. Orang suka berbisnis dengan orang-orang yang mereka kenal, sukai dan kepercayaan, sehingga tugas berikutnya adalah tetap terlihat dan menjadi akrab dengan orang-orang yang berafiliasi dengan mereka. Melakukan hal-hal seperti jaringan aktif, menambahkan anggota ke daftar ezine Anda, dan bertemu dengan orang lain sambil minum kopi atau makan siang, Anda membangun "faktor keakraban." Kemudian sekali Anda lebih akrab,maka prospek menginginkan informasi lebih lanjut.

Dari Keakraban pada Informasi

Bahkan ketika orang tahu nama Anda, mereka tidak selalu benar-benar mengerti apa yang Anda lakukan untuk klien Anda. Pekerjaan Anda berikutnya adalah untuk memberikan informasi yang memungkinkan mereka tahu siapa yang bekerja dengan Anda, apa tantangan Anda dan apa yang Anda hasilkan. Alat-alat informasi penting dan artikel situs web seperti yang sedang Anda baca sekarang.

Dari Informasi ke Pengalaman

Tahap akhir sebelum sampai ke base kedua adalah menyediakan lebih dari sebuah pengalaman untuk prospek Anda. Melampaui informasi, di mana Anda memberitahu orang-orang apa yang Anda lakukan, adalah untuk benar-benar menunjukkan nilai pekerjaan Anda. Hal ini dapat dicapai melalui studi kasus, presentasi dan, dalam beberapa kasus, menawarkan contoh hasil kerja Anda melalui presentasi, briefing atau teleclasses eksekutif.

Dari Pengalaman ke Proses Penjualan

Dengan jumlah afiliasi yang cukup, perhatian, keakraban, informasi dan pengalaman, prospek jauh lebih cenderung ingin menjajaki bekerja sama dengan Anda. Anda mungkin mengatakan ini adalah tempat berakhir pemasaran dan penjualan dimulai. Saat Anda masuk ke base kedua Anda sedang terlibat dalam proses penjualan dan belajar bagaimana Anda bisa membantu calon pelanggan ini secara khusus. Menjual adalah jauh lebih mudah jika Anda telah memainkan permainan pemasaran dengan baik sampai saat ini.

Karena artikel ini lebih terfokus pada proses pemasaran, saya tidak akan membahas rincian proses penjualan di sini. Tapi sekarang Anda tahu strategi yang paling penting dari permainan pemasaran dan cara bermain untuk menang.

7. Membuat Rencana Aksi Pemasaran

Bahkan setelah Anda mengembangkan dasar pemasaran Anda, yang mencakup pengertian permainan, mempertahankan pola pikir pemasaran yang ideal, menciptakan pesan pemasaran yang kuat, materi, dan strategi, Anda memiliki satu langkah penting menuju keberhasilan pemasaran.

Langkah ini adalah membuat rencana tindakan pemasaran. Anda mungkin berpikir ini sebagai cetak biru pemasaran, seperti cetak biru arsitektur. Rencana aksi ini adalah langkah-demi-langkah panduan dalam menerapkan strategi pemasaran Anda.

Ideal rencana tindakan pemasaran meliputi unsur-unsur berikut:

Target Market

Siapa sebenarnya yang akan Anda dekati/bidik? Siapakah klien potensial Anda dan di mana mereka dapat dihubungi?

Harga

Apa yang akan Anda tetapkan untuk layanan yang Anda tawarkan?

Strategi

Bagaimana Anda akan mendapatkan kata keluar? Apa strategi khusus yang akan Anda gunakan untuk memasarkan layanan Anda? Sebagai contoh, mungkin ini adalah jaringan, presentasi, penerbitan, atau mengirim surat.

Tujuan

Ini adalah hasil akhir yang ingin Anda capai dengan menerapkan rencana Anda. Sebagai contoh, tujuan dari rencana penerbitan mungkin untuk "Dapatkan klien baru 10 masing-masing senilai Rp. 100.000,-"

Hasil yang dimaksudkan
Ini adalah segala sesuatu yang lain yang ingin Anda capai melalui strategi pemasaran ini. Jadi, selain untuk menarik lebih banyak klien, Anda mungkin ingin untuk:
a) mendapatkan lebih banyak eksposur ke pasar yang Anda targetkan,
b) meningkatkan kredibilitas,
c) menambahkan nama ke daftar email Anda,
d) menjual produk di presentasi,
e) meningkatkan kemampuan berbicara.

Perencanaan strategi

Ini adalah pendekatan Anda yang sebenarnya untuk menerapkan strategi Anda. Jika Anda telah memilih presentasi, Anda perlu menentukan rencana di mana Anda akan presentasi, bagaimana Anda akan mendapatkan perjanjian, topik apa yang akan dibicarakan, hand out dan bahan-bahan apa yang diperlukan, dan apa yang ditawarkan untuk membuat setelah berbicara. Ini akan sering mengambil beberapa penelitian dan bantuan besar untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan.

Bahan Pemasaran dan Sumber Daya

Apa yang tertulis atau materi pemasaran lainnya yang diperlukan? apa sumber-sumber lain akan dibutuhkan untuk sukses? Ini mungkin termasuk dana, informasi dan bantuan.

Menawarkan dan Call to Action

Bagi banyak langkah dari rencana Anda mungkin perlu meminta seseorang untuk mengambil tindakan. Anda akan perlu pendekatan organisasi dan meminta mereka untuk buku Anda. Pada presentasi Anda akan menjual ide-ide Anda dan meminta mereka untuk membeli konsep Anda. Pada akhirnya Anda akan menyampaikan dengan meminta peserta untuk menindak lanjuti.

Follow-Up

Sekali Anda telah menerapkan aktivitas Anda, Anda perlu untuk menindak lanjuti dalam beberapa cara, atau bentuk. Anda tidak bisa hanya berpangku tangan dan berharap telepon berbunyi.

Langkah-langkah dan tindakan Timeline

Langkah terakhir dalam rencana tindakan pemasaran Anda adalah untuk menggariskan semua langkah yang Anda akan ambil dalam urutan kronologis yang anda susun.

Lanjut lagi......
Template by : kendhin x-template.blogspot.com